Diabetes

Pengertian


Diabetes (diabetes melitus) adalah suatu penyakit metabolik yang diakibatkan oleh meningkatnya kadar glukosa atau gula darah. Gula darah sangat vital bagi kesehatan karena merupakan sumber energi yang penting bagi sel-sel dan jaringan.
Penyakit ini dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu:
  • Diabetes tipe 1, di mana sistem daya tahan tubuh menyerang dan menghancurkan sel beta di pankreas yang memproduksi insulin.
  • Diabetes tipe 2, di mana sel beta di pankreas tidak memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup, atau sel-sel tubuh tidak menunjukkan respons terhadap insulin yang diproduksi.
  • Diabetes gestasional, yakni diabetes yang terjadi saat kehamilan.
  • Diabetes tipe lain, yang dapat timbul akibat kelainan hormon, imunologi, infeksi, atau genetik lainnya.
Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa pada tahun 2013, sekitar 6,9% penduduk Indonesia dianggap mengalami diabetes.
Jika tidak dikelola dengan baik, diabetes dapat menyebabkan terjadinya berbagai komplikasi, seperti penyakit jantung koroner, stroke, obesitas, serta gangguan pada mata, ginjal, dan saraf.
Selain itu, diabetes juga dapat menyebabkan terjadinya fluktuasi kadar gula darah dalam tubuh. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan (hipoglikemia) atau peningkatan kadar gula darah (hiperglikemia) secara tiba-tiba.

Diagnosis

Diagnosis untuk diabetes dapat ditegakkan dari pemeriksaan kadar gula darah. Seseorang dapat dikatakan mengalami diabetes apabila:
  • Terdapat kadar gula darah puasa lebih dari 126 mg/dL, di mana puasa merupakan kondisi tidak adanya asupan kalori selama minimal 8 jam sebelum pemeriksaan.
  • Terdapat kadar gula darah lebih dari 200 mg/dL setelah dilakukan Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO), di mana seseorang mendapat asupan gula dengan beban glukosa 75 gram.
  • Terdapat kadar gula darah sewaktu lebih dari 200 mg/dL yang disertai dengan keluhan klasik diabetes.
Selain itu, pada seseorang yang sudah didiagnosis menderita diabetes, dapat diperiksa kadar HbA1c setidaknya setiap tiga bulan sekali jika belum mencapai target gula darah, dan setiap 6 bulan sekali untuk mereka dengan kadar gula darah yang sudah stabil.
Gejala
Pradiabetes atau diabetes tipe 2 biasanya tidak menunjukkan gejala pada awalnya. Sementara itu, pada diabetes tipe 1, gejala dapat berkembang dengan cepat.
Beberapa tanda dan gejala diabetes tipe 1 dan tipe 2 adalah:
  • Meningkatnya haus
  • Sering buang air kecil
  • Rasa lapar yang ekstrem
  • Turun berat badan tanpa sebab
  • Kelelahan
  • Pandangan kabur
  • Luka yang lama sembuh
  • Sering mengalami infeksi, seperti pada gusi, kulit, vagina
Diabetes tipe 1 dapat berkembang pada usia berapapun, biasanya muncul selama masa kanak-kanak atau remaja. Diabetes tipe 2—tipe yang lebih umum—dapat terjadi pada usia berapapun, walau lebih sering dialami orang yang berusia lebih dari 40 tahun.

Pengobatan

Dalam penanganan diabetes, para ahli kesehatan menggunakan istilah “5 Pilar” yang mencakup:
  • Edukasi 
    Edukasi yang dilakukan mencakup pemberian informasi mengenai perubahan gaya hidup yang dapat dilakukan. Hal ini dimaksudkan agar penderita diabetes merasa termotivasi serta mendapatkan informasi mengenai perilaku hidup sehat.
    Informasi tersebut mencakup pemantauan gula darah mandiri, tanda dan gejala dari komplikasi yang dapat timbul, serta cara mengatasinya.

  • Pengaturan pola makan
    Terapi ini dapat disesuaikan untuk setiap penderita diabetes, seusai kebutuhan masing-masing. Namun, hal-hal yang perlu ditekankan adalah pentingnya keteraturan dalam pola makan termasuk jadwal makan, jenis makanan, serta jumlahnya.
    Bila penderita diabetes berkonsultasi dengan dokter, juga dapat dilakukan perhitungan berat badan ideal, asupan kalori yang disarankan setiap harinya, serta proporsi dari lemak, protein, dan karbohidrat yang dapat dikonsumsi.

  • Olahraga
    Penderita diabetes disarankan berolahraga secara teratur, setidaknya 3–4 kali seminggu selama minimal 30 menit.
    Selain menjaga kesehatan, olahraga juga dapat membantu menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga memperbaiki kendali glukosa darah.
    Jenis-jenis olahraga yang disarankan adalah aktivitas aerobik seperti berjalan kaki, bersepeda, berlari, maupun berenang.

  • Obat-obatan
    Pemberian obat-obatan pada penderita diabetes dapat mencakup obat minum (oral) atau suntik. Untuk diabetes tipe 1, pengobatan dapat berupa insulin yang diberikan melalui suntikan.
    Untuk diabetes tipe 2, terdapat beberapa golongan obat oral yang dapat diberikan sesuai indikasi oleh dokter. Namun, pada kasus-kasus tertentu, insulin suntik juga dapat diberikan untuk diabetes tipe 2.

  • Pemantauan gula darah mandiri
    Saat ini, banyak tersedia alat pengukur kadar gula darah yang mudah dipakai. Hasil yang didapat umumnya dapat dipercaya bila kalibrasi dari alat dilakukan dengan baik dan pemeriksaan dilakukan sesuai cara yang dianjurkan.
    Waktu yang dianjurkan untuk pemantauan gula darah mandiri adalah sesaat sebelum makan, 2 jam setelah makan, menjelang tidur, atau ketika mengalami gejala-gejala tertentu.

Pencegahan

Sangat penting untuk melakukan pencegahan diabetes jika Anda memiliki faktor risiko diabetes. Misalnya, jika Anda kelebihan berat badan atau mempunyai keluarga dengan riwayat diabetes.
Untuk menghindari diabetes, menerapkan pola hidup sehat adalah kunci utama. Konsumsilah makanan sehat dan bergizi seimbang, berolahraga secara teratur, dan jaga berat badan tetap ideal.

DEMAM TIFOID

DEMAM TIFOID 


Pengertian

Demam tifoid merupakan penyakit yang terjadi akibat infeksi bakteri Salmonella typhi. Demam ini secara umum menyerang penderita dalam kelompok usia 5-30 tahun. Masa inkubasi dari bakteri umumnya dapat bervariasi juga, mulai dari 3 hari hingga 60 hari.
Hingga saat ini, demam tifoid masih menjadi masalah kesehatan di berbagai negara, terutama di negara berkembang. Di Indonesia, angka kejadian demam tifoid cukup tinggi, dan hal ini berkaitan dengan kebersihan lingkungan dan sanitasi yang belum memadai.

Diagnosis

Diagnosis demam tifoid umumnya dapat ditentukan setelah dilakukan wawancara medis yang mendetail, pemeriksaan fisik lengkap, dan pemeriksaan penunjang.
Wawancara medis dapat mencakup riwayat keluhan yang dialami, serta faktor risiko seperti riwayat konsumsi makanan dengan kebersihan yang kurang baik. Pemeriksaan fisik juga dapat dilakukan oleh dokter untuk memastikan arah diagnosis.
Selain itu, pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk memastikan diagnosis adalah uji Widal serta pemeriksaan IgG dan IgM Salmonella typhi. Pemeriksaan biakan/ kultur darah dan Polymerase Chain Reaction (PCR) merupakan pemeriksaan definitif baku emas yang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi bakteri.
Namun, keduanya jarang dilakukan karena membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang cukup tinggi. Lagi pula, secara umum tifoid dapat terdiagnosis dari gejala umum dan pemeriksaan lain yang lebih sederhana.

Gejala

Gejala demam tifoid sangat luas dan bervariasi. Pada umumnya, seseorang dicurigai terkena demam tifoid bila mengalami demam lebih dari 7 hari dan tidak mereda dengan penggunaan obat penurun panas. Demam juga dapat makin tinggi secara bertahap setiap harinya, dan bila tidak ditangani, dapat berlangsung hingga 3 minggu.
Keluhan lain yang menyertai demam dapat berupa:
  • Rasa lemah
  • Nyeri kepala
  • Nyeri pada persendian
  • Nyeri pada otot-otot tubuh
  • Perut terasa kembung atau nyeri
  • Diare atau sulit buang air besar
  • Mual dan muntah
  • Batuk
  • Tampak gelisah
Bila tidak ditangani dengan tepat, demam tifoid juga dapat menimbulkan komplikasi, baik pada saluran pencernaan, hati, jantung, atau sistem persarafan.

Pengobatan

Sering dikatakan bahwa penanganan yang terbaik adalah pencegahan. Untuk mencegah tertular demam tifoid, disarankan untuk tidak mengonsumsi makanan yang diduga telah tercemar oleh lalat, atau yang kebersihannya tidak terjamin. Hal ini akan mengurangi risiko Anda untuk terinfeksi bakteri Salmonella typhi.
Jika seseorang diduga terkena demam tifoid, disarankan untuk langsung berobat ke dokter. Sementara itu, jika telah didiagnosis mengalami demam tifoid, umumnya akan mendapatkan penanganan berikut ini:
  • Bed rest.
  • Asupan nutrisi yang sesuai untuk penderita. Bila penderita memiliki kesulitan asupan dikarenakan mual dan muntah, asupan tambahan dapat diberikan melalui cairan infus sesuai anjuran dokter.
  • Pemberian antibiotik sesuai anjuran dokter, dengan mempertimbangkan derajat beratnya penyakit serta sensitivitas individu terhadap antibiotik tersebut.
  • Pemberian obat penurun demam.
  • Pemberian obat untuk gejala-gejala lainnya seperti mual, muntah, nyeri perut, gangguan buang air besar, dan sebagainya, sesuai dengan keluhan yang dialami oleh pasien.

Penyebab

Demam tifoid diakibatkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi, dan sebagian kecil juga dapat diakibatkan oleh Salmonella paratyphi A, B, atau C.
Demam tifoid sendiri dapat ditularkan secara fekal-oral, yakni dari kotoran ke mulut. Hal ini dapat terjadi bila kuman dari kotoran diangkut oleh lalat, yang kemudian meninggalkan kotoran tersebut pada makanan yang akan disantap oleh seseorang.
Karena itu, kebersihan lingkungan memegang peran yang sangat penting dalam penularan demam tifoid. Sangat disarankan juga untuk tidak mengonsumsi makanan yang diduga tercemar atau yang kebersihannya patut dipertanyakan.

DEMAM PADA ANAK

DEMAM PADA ANAK


Pengertian

Demam pada anak adalah peningkatan suhu tubuh anak yang di atas normal. Suhu normal rektal (anus) pada anak berumur kurang dari 3 tahun mencapai suhu 38 °C, dan suhu normal pada mulut mencapai 37,5 °C.
Pada anak berumur lebih dari 3 tahun, suhu mulut mencapai 37,2 °C dan suhu rektal normal mencapai 37,8 °C. Demam pada umumnya bukan suatu keadaan gawat darurat, kecuali suhu tubuh ≥ 41 °C.

Diagnosis

Diagnosis demam dilakukan dengan melakukan pengukuran pada tubuh anak. Pengukuran suhu tubuh dapat dilakukan pada tiga tempat, yaitu rektal (anus), aksilla (ketiak), dan oral (mulut). Masing-masing area ini memiliki batasan suhu tubuh normal.
Demam dapat disebabkan oleh banyak hal, salah satu yang paling umum adalah infeksi. Infeksi saluran napas atau saluran pencernaan perlu ditelusuri pada anak yang sedang demam. Sementara itu, pemicu demam noninfeksi meliputi kekurangan cairan dan gangguan autoimun.
Gejala
Demam bukanlah suatu penyakit, melainkan gejala dari sebuah gangguan kesehatan atau infeksi. Karena itu, bila anak demam, perlu ditelusuri apakah memiliki gejala lain yang menunjang.
Beberapa gejala yang perlu diperhatikan adalah adanya batuk, sesak napas, dan diare. Jika terdapat gejala-gejala ini, bisa jadi hal tersebut yang menyebabkan demam pada anak.

Pengobatan

Penanganan awal demam meliputi pemberian antipiretik (obat penurun panas). Tujuan pemberian obat penurun panas adalah untuk membuat anak menjadi nyaman sekaligus berfungsi sebagai antinyeri.
Obat penurun panas yang umum digunakan pada anak yang demam adalah parasetamol dan ibuprofen.
Selain pemberian obat penurun panas, anak juga perlu mendapatkan obat tergantung dari penyebab demam anak. Misalnya, pengobatan untuk infeksi saluran napas atau diare.

Pencegahan

Pencegahan demam pada anak adalah dengan menjaga kondisi anak tetap sehat. Jagalah sistem imunitas anak dengan memberikan makanan yang bergizi, memandikan secara rutin, dan membersihkan tangan anak secara berkala. Hindari juga anak dari paparan dengan anak lain yang sedang sakit. Berbagai hal ini dapat menurunkan kejadian infeksi pada anak.

DEMAM BERDARAH (DBD)

DEMAM BERDARAH (DBD)


Pengertian

Demam berdarah dengue merupakan infeksi yang disebabkan oleh virus dengue. Virus dengue ini ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti. Demam berdarah dengue dapat membuat penderitanya mengalami nyeri hebat seakan-akan tulangnya patah. Pada sejumlah pasien, demam berdarah dengue dapat menjadi penyakit yang sangat mengancam jiwa.
Demam Berdarah Dengue di Indonesia
Demam berdarah dengue masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Tingkat terjangkitnya penyakit ini merupakan yang tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara.

Sepanjang tahun 2013, Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 103.649 penderita dengan angka kematian mencapai 754 orang. Keterlibatan dokter di pelayanan kesehatan primer sangat dibutuhkan untuk menekan tingkat kejadian maupun mortalitas DBD.
Komplikasi pada demam berdarah dengue bisa menyebabkan kerusakan sejumlah organ, seperti paru, hati, dan jantung. Tekanan darah juga dapat menurun secara drastis, hingga level yang sangat berbahaya dan bisa mengakibatkan kematian.

Diagnosis

Dalam pemeriksaan laboratorium pada awal fase demam, akan dijumpai jumlah sel darah putih yang normal. Kemudian, jumlah tersebut akan menurun selama fase demam.
Jumlah sel darah merah pada awal demam pada umumnya juga akan tetap normal. Namun, penurunan jumlah biasanya ditemukan antara hari ketiga sampai ketujuh. Karena itu, pemeriksaan sel darah merah ini perlu diulang.
Perlu diketahui bahwa peningkatan sel darah merah selalu dijumpai pada demam berdarah dengue. Hal ini merupakan indikator terjadinya kebocoran plasma, di mana seharusnya sel darah tersimpan. Pemeriksaan rontgen dada juga bisa dilakukan untuk melihat adanya kebocoran cairan ke dalam rongga dada.

Gejala

Demam yang mendadak tinggi hingga 39 derajat Celcius merupakan gejala utama dari demam berdarah dengue. Demam ini akan berlangsung terus-menerus selama 2-7 hari, kemudian turun dengan cepat dan biasanya diikuti oleh tanda-tanda sebagai berikut:
  • Nyeri kepala
  • Menggigil dan lemas
  • Nyeri di belakang mata, otot, dan tulang
  • Ruam kulit hingga kemerahan
  • Kesulitan menelan makanan dan minuman
  • Mual dan muntah
Selanjutnya, tanda-tanda di atas akan diikuti oleh tanda perdarahan, seperti:
  • Gusi berdarah
  • Mimisan
  • Timbul bintik-bintik merah pada kulit
  • Muntah darah
  • Buang air besar berwarna hitam
Pada fase demam, demam berdarah dengue biasanya diikuti oleh fase kritis selama 2-3 hari. Pada fase kritis inilah suhu tubuh menurun, hingga bagian tubuh seperti tangan dan kaki dingin dan biasanya merasa seperti sudah sembuh. Padahal, pada fase ini Anda harus waspada, sebab bisa terjadi sindrom syok dengue yang dapat mengancam jiwa.

Pengobatan

Penanganan awal dari demam berdarah dengue bisa dilakukan di rumah. Prinsipnya adalah pasien harus mengonsumsi banyak cairan untuk mencegah dehidrasi, yang berujung ke penurunan trombosit dan syok. Konsumsi 2-3 liter perhari adalah suatu keharusan.
Dehidrasi bisa timbul akibat demam tinggi, kesulitan menelan makanan dan minuman, serta muntah. Jenis minuman yang dianjurkan adalah jus buah, teh manis, sirop, susu, serta larutan oralit. Apabila cairan oral tidak dapat diberikan, sebaiknya pasien dirawat untuk diberikan cairan infus.
Pasien diharapkan untuk beristirahat total selama masih demam maupun fase syok. Penting juga untuk selalu memonitor kadar trombosit dan kadar sel darah merah dalam darah sampai mencapai batas normal kembali.
Untuk mengatasi demam, bisa dilakukan kompres seluruh badan terutama di bagian ketiak dan selangkangan. Parasetamol juga dapat membantu untuk mengurangi demam. Setelah semua dilakukan, segeralah bawa penderita ke rumah sakit untuk mencegah timbulnya komplikasi.
Pencegahan 
Pada dasarnya, upaya pencegahan demam berdarah dengue dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan rumah. Selain itu, pastikan Anda juga menjaga kebersihan lingkungan di sekitar Anda.

Cara terbaik untuk mengendalikan nyamuk Aedes aegypti adalah dengan menyingkirkan habitatnya. Anda harus mengosongkan wadah air yang terbuka, sehingga nyamuk tidak dapat bertelur di dalam wadah-wadah terbuka tersebut.
Untuk mencegah gigitan nyamuk, Anda dapat mengenakan pakaian yang menutupi kulit sepenuhnya. Menggunakan losion antinyamuk dan kelambu saat beristirahat juga bisa membantu.

Penyebab

Demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan kepada manusia melalui nyamuk Aedes aegypti. Saat virus dengue menginfeksi nyamuk dan nyamuk menggigit manusia, maka bisa mengantarkan virus tersebut ke dalam tubuh.
Aedes aegypti umumnya berukuran lebih kecil, badannya berwarna hitam pekat dengan dua garis vertikal putih di punggung dan garis-garis putih horizontal pada kaki. Nyamuk ini biasanya ‘bekerja’ dari pagi hingga sore hari, meskipun terkadang juga menggigit pada malam hari. Ia menyukai tempat gelap dan sejuk, sehingga lebih banyak ditemukan di dalam rumah dibandingkan di luar rumah yang panas

DEHIDRASI

DEHIDRASI


Pengertian

Dehidrasi merupakan kondisi jumlah cairan yang keluar dari tubuh lebih banyak dari jumlah cairan yang masuk. Hal ini dapat terjadi akibat asupan cairan yang berkurang atau pengeluaran cairan yang berlebih.
Pengeluaran cairan dari tubuh terjadi melalui keringat, air mata, muntah, buang air kecil, maupun buang air besar.
Dehidrasi dapat disebabkan oleh berbagai penyakit, termasuk diare, demam, muntah-muntah, luka bakar, kelainan ginjal, atau penyakit lainnya. Selain itu, dehidrasi juga dapat timbul sebagai akibat dari hal lain, misalnya produksi keringat yang meningkat setelah berolahraga atau beraktivitas yang berat, konsumsi alkohol, dan berbagai hal lainnya.
Seseorang yang mengalami dehidrasi membutuhkan penanganan segera untuk mencegah komplikasi yang dapat timbul.
Beberapa kelompok yang lebih berisiko untuk mengalami dehidrasi adalah:
  • Bayi dan anak, karena berat badan yang rendah membuat mereka lebih sensitif terhadap kekurangan cairan dengan volume yang lebih sedikit
  • Individu lanjut usia
  • Individu dengan penyakit jangka panjang seperti diabetes
  • Atlit olahraga, karena dapat kehilangan cairan tubuh dalam jumlah banyak setelah berolahraga dalam jangka waktu yang lama serta produksi keringat yang berlebih

Diagnosis

Menentukan diagnosis dehidrasi dapat berdasarkan tanda dan gejala yang diamati. Seseorang yang mengalami dehidrasi umumnya memiliki tekanan darah yang rendah, denyut nadi yang cepat, produksi air kemih yang berkurang dan berwarna kuning pekat, dan sebagainya.
Selain itu, Anda juga dapat melakukan pemeriksaan darah untuk mengamati adanya kandungan elektrolit dalam tubuh yang menurun serta fungsi ginjal bila diperlukan, dan pemeriksaan air kemih untuk melihat adanya dehidrasi dan derajat dari dehidrasi tersebut.
Setelahnya, juga sangat penting untuk menentukan penyakit yang menyebabkan timbulnya dehidrasi.
Diagnosis dari penyakit yang mendasari kondisi dehidrasi tersebut dapat ditentukan dengan wawancara medis dan pemeriksaan fisis secara langsung yang menyeluruh sesuai dengan keluhan yang dialami oleh pasien, serta pemeriksaan penunjang tertentu bila dibutuhkan.

Gejala

Dehidrasi dapat menyebabkan timbulnya beberapa tanda dan gejala, di antaranya:
  • Rasa haus yang berlebih
  • Kulit kering
  • Mata kering
  • Bibir dan mulut kering
  • Rasa lelah
  • Kepala terasa pusing
  • Penurunan frekuensi dan jumlah buang air kecil
  • Buang air kecil berwarna kuning pekat
  • Penurunan berat badan
  • Mata cekung
  • Tekanan darah menurun
  • Denyut nadi meningkat
Tanda dan gejala yang terjadi juga dapat digunakan untuk menentukan perkiraan derajat keparahan dehidrasi, yakni dehidrasi ringan-sedang atau dehidrasi berat.
Selain itu, tanda dan gejala dehidrasi juga dapat berbeda sesuai dengan usia. Misalnya, pada bayi dan anak, dehidrasi dapat dicurigai bila dilihat tidak adanya air mata saat menangis, ubun-ubun yang cekung, anak tampak rewel, dan sebagainya.
Sedangkan, pada orang dewasa, gejala yang diamati dapat berupa rasa lelah, urine berwarna kuning pekat, rasa pusing, dan sebagainya.

Pengobatan

Penanganan untuk dehidrasi juga bergantung dari usia, derajat keparahan, serta penyebab dari kondisi dehidrasi tersebut.
Pada kondisi dehidrasi ringan-sedang di mana asupan makanan dan minuman masih baik, untuk bayi dan anak yang mengalami dehidrasi akibat dari diare, muntah, atau demam, dapat dilakukan pemberian cairan rehidrasi oral sesuai instruksi dari dokter.
Cairan ini mengandung air dan garam dalam proporsi spesifik untuk mengganti baik ciaran maupun elektrolit yang hilang. Pada orang dewasa, dapat disarankan untuk meningkatkan asupan air dan cairan lainnya.
Pada kondisi dehidrasi berat, penanganan dapat dilakukan di rumah sakit dengan cairan dan garam yang dapat diberikan secara intravena (melalui infus).
Dengan cara ini, penggantian cairan dan elektrolit yang hilang dapat lebih cepat dan juga merupakan cara yang efektif apabila asupan melalui mulut atau saluran cerna tidak memungkinkan.

Pencegahan

Mencegah dehidrasi dapat dilakukan dengan memastikan bahwa asupan cairan selalu tercukupi. Asupan air yang dianjurkan adalah sekitar 2.000–2.500 ml setiap harinya. Namun, hal ini juga bergantung dari usia, jenis kelamin, asupan lain, serta ada atau tidaknya penyakit tertentu.
Karena tingkat aktivitas dan produksi keringat berbeda untuk setiap individu, asupan air yang dibutuhkan setiap harinya juga dapat berbeda. Seseorang yang berolahraga juga dianjurkan untuk meningkatkan asupan cairan untuk menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh.
Selain itu, seseorang yang memiliki risiko lebih tinggi, misalnya individu yang bekerja di bawah terik matahari sepanjang hari atau seseorang yang sedang mengalami muntah atau diare, juga dapat meningkatkan asupan cairan untuk mencegah timbulnya dehidrasi.

BISUL

BISUL


Pengertian

Bisul (furunkel) adalah infeksi bakteri yang memicu peradangan di dalam folikel rambut (lubang tempat rambut tumbuh). Pada awalnya, kulit di daerah infeksi menjadi merah dan muncul benjolan. Setelah empat sampai tujuh hari, benjolan tersebut mulai berisi nanah dan terasa sakit.
Bisul biasanya muncul pada area kulit yang memiliki rambut, sering berkeringat, dan bergesekan –seperti leher, wajah, ketiak, bokong, dan paha. Namun, tidak menutup kemungkinan bisul muncul di permukaan 

Diagnosis

Bisul umumnya dapat sembuh sendiri tanpa perawatan medis. Namun, Anda harus segera memeriksa diri ke dokter apabila memiliki kondisi bisul berikut:
  • Muncul di wajah, hidung, atau tulang belakang. Ini bisa memicu terjadinya komplikasi
  • Membesar hingga berukuran diameter lebih dari 5 cm
  • Tidak sembuh dalam 14 hari
Anda juga disarankan untuk berkonsultasi ke dokter apabila muncul bisul sabut, atau merasakan gejala tambahan seperti demam.
Dokter biasanya mendiagnosis bisul hanya dengan melihat kondisi kulit pasien. Jika infeksi tersebut berulang atau tidak teratasi dengan pengobatan yang sebelumnya diberikan, dokter akan menyarankan pemeriksaan penunjang berupa tes darah di laboratorium. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan antibiotik yang tepat untuk melawan bakteri penyebab bisul.

Gejala

Bisul berawal dari benjolan berukuran kecil yang keras, berwarna merah, dan terasa nyeri. Beberapa hari kemudian, benjolan melunak lalu membesar, dan nyerinya pun bertambah. Tidak lama, kantong nanah akan terbentuk di puncak benjolan.
Bisul jarang memerlukan penanganan medis karena bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, jika kondisi bertambah parah, Anda perlu memeriksakan diri ke dokter. Tanda-tandanya adalah sebagai berikut:
  • Demam
  • Benjolan terus membesar dan terasa sakit
  • Berjumlah lebih dari satu buah di area yang sama, dikenal dengan istilah bisul sabut
  • Kelenjar getah bening membengkak
  • Bisul tak kunjung kering
  • Memiliki masalah dengan sistem kekebalan tubuh, atau dalam pengobatan yang mengganggu sistem kekebalan tubuh dan menimbulkan bisu

Pengobatan

Kebanyakan kasus bisul dapat sembuh dengan sendirinya dan dapat diatasi dengan perawatan mandiri di rumah. Namun, beberapa kasus lainnya memerlukan penanganan dari dokter.
  1. Perawatan Mandiri
    Salah satu cara mempercepat proses penyembuhan adalah mengompres bisul dengan kain yang sebelumnya sudah dicelupkan ke dalam air hangat. Lakukan kompres hangat selama 10 menit, tiga sampai empat kali setiap hari. 
    Suhu panas akan meningkatkan sirkulasi darah di sekitar bisul. Ini membuat akan ada lebih banyak lagi sel darah putih yang dikirimkan sistem kekebalan tubuh untuk membantu penyembuhan. 
    Saat bisul pecah, tutup dengan kasa steril agar infeksi tidak menyebar ke area lain. Setelahnya, pastikan Anda mencuci tangan dengan air hangat dan sabun. Ini akan membantu agar bakteri tidak tersebar ke area lain tubuh atau bahkan ke individu lain. 
    Jika nyeri yang terasa tidak dapat ditahan, Anda bisa mengonsumsi obat pereda nyeri seperti parasetamol atau ibuprofen.

  2. Mengeringkan Bisul
    Jika ukuran bisul agak besar dan terasa lunak, berkonsultasilah ke dokter. Bisul dengan ciri-ciri tersebut biasanya tidak akan pecah dengan sendirinya serta tidak dapat ditangani dengan antibiotik. 
    Dokter mungkin akan mengeluarkan nanah dengan melakukan pembedahan kecil. Sebelum tindakan dilakukan, area bisul akan dibius lokal agar kebal. Kemudian, bagian puncak bisul akan ditusuk dengan jarum atau pisau bedah yang sudah disterilkan terlebih dulu. 
    Proses tersebut bertujuan untuk membuat nanah keluar dari bisul sampai tuntas. Nyeri akan mereda dan proses penyembuhan akan dimulai. Tapi jangan pernah memecahkan bisul sendiri, karena hal itu hanya akan membuat infeksi menyebar ke area lain.

  3. Antibiotik
    Dokter biasanya akan memberikan antibiotik apabila:
    o Terjadi bisul sabut
    o Ada demam
    o Terjadi infeksi sekunder, seperti selulitis
    o Lokasi bisul ada di wajah, karena lebih rentan infeksi
    o Anda merasakan sakit dan tidak nyaman
    Antibiotik yang biasanya diberikan dokter adalah antibiotik berbahan dasar penisilin bernama flucloxacillin. Jika Anda alergi penisilin, alternatifnya bisa mengonsumsi eritromisin dan klaritromisin. 
    Perlu diperhatikan bahwa antibiotik harus habis dikonsumsi bahkan pada waktu bisul sudah sembuh. Hal tersebut berguna agar penyembuhannya tuntas dan infeksi tidak berulang.

Pengobatan Bisul dan Bisul Sabut yang Muncul Berulang
Bisul dan bisul sabut yang berulang kali muncul membutuhkan pengobatan lebih lanjut. Kebanyakan penderita bisul berulang mengalaminya karena mereka adalah pembawa bakteri Staphylococcus aureus. Jika demikian, pengobatan tertentu harus dilakukan agar bakteri dapat ditumpas secara tuntas.

Pengobatan bergantung pada lokasi bakteri Staphylococcus pada tubuh Anda. Bakteri yang ada di permukaan kulit dapat diatasi dengan menggunakan sabun antibakteri. Jika ditemukan bakteri di dalam hidung, maka Anda perlu menggunakan krem antiseptik selama 10 hari.
Komplikasi Bisul
Berikut ini komplikasi bisul yang dapat terjadi:

  1. Bekas Luka
    Bisul berukuran besar atau bisul sabut terkadang meninggalkan bekas luka. Bekas luka ini tidak akan hilang sepenuhnya, tetapi seiring berjalannya waktu akan memudar dan tidak akan terlalu terlihat seperti sebelumnya. Jika Anda khawatir bekas luka akan menganggu penampilan, ada beberapa jenis perawatan yang bisa dilakukan, misalnya:
    • Suntik kortikosteroid yang akan membantu mengempiskan luka parut.
    • Bedah plastik.
    Sebagai alternatif, Anda bisa menggunakan kosmetika untuk menyamarkan bekas luka yang ada.
  1. Infeksi yang Menyebar
    Bakteri yang ada di dalam bisul atau bisul sabut terkadang bisa menyebar ke bagian tubuh lain dan memicu terjadinya infeksi sekunder. Selulitis adalah infeksi sekunder paling umum yang sering dikaitkan dengan bisul dan bisul sabut.
    Infeksi sekunder lain yang mungkin timbul adalah:
    • Impetigo – infeksi kulit menular yang bisa menyebabkan luka dan lecet.
    • Sepsis artritis – infeksi sendi.
    • Osteomyelitis – infeksi yang terbentuk di dalam tulang.
    • Endokarditis – infeksi pada lapisan dalam jantung.
    • Keracunan darah – infeksi darah.
    • Abses otak – nanah yang terbentuk di dalam otak.
    • Beberapa infeksi di atas perlu ditangani dengan suntikan antibiotik. Untuk kasus keracunan darah dan abses otak, Anda harus dirawat di ruang rawat intensif (ICU).

  2. Trombosis Sinus Kavernosus
    Ini adalah komplikasi bisul langka yang dapat mengancam nyawa penderitanya. Berawal dari ketika infeksi memicu penggumpalan darah di ruang belakang kantong mata. Gumpalan darah lantas akan memberikan tekanan pada otak yang dapat mengakibatkan:
    • Sakit kepala.
    • Mata bengkak.
    • Nyeri pada mata.

    Apabila tidak segera diberikan pengobatan antibiotik, thrombosis sinus kavernosus bisa berakibat fatal.

Pencegahan

Bisul memang tidak selalu bisa dicegah, tetapi dengan melakukan langkah sederhana berikut dapat menurunkan risiko Anda:
  • Bersihkan kulit dengan teratur menggunakan sabun antibakteri.
  • Selalu bersihkan luka gores, luka terbuka, atau gigitan serangga.
  • Jaga kebersihan luka gores, luka terbuka, dan gigitan serangga dengan menggunakan perban steril sampai luka sembuh.
Menjalankan pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi dan rutin berolahraga. Ini akan mendongkrak sistem kekebalan tubuh yang akan menurunkan risiko terjadinya infeksi kulit.
Cara Agar Bisul Tidak Menyebar
Saat Anda menderita bisul, sangatlah penting untuk menjaga agar infeksi tidak menyebar ke bagian lain tubuh dan juga orang lain. Anda bisa melakukannya dengan:
  • Mencuci tangan dengan sabun antibakteri setiap kali habis menyentuh bisul.
  • Mencuci pakaian, seprai, dan handuk dengan suhu tinggi.
  • Menggunakan handuk berbeda untuk area wajah dan badan.
  • Memakai kasa steril untuk menutup luka sampai betul-betul sembuh.
  • Rutin mengganti kasa steril penutup bisul.
  • Memperhatikan penanganan limbah kasa steril. Harus dimasukkan ke dalam plastik dan ditutup rapat sebelum dibuang ke tempat sampah.
  • Hindari sauna, pusat kebugaran, dan kolam renang sampai kondisi kulit sehat kembali.

BIANG KERINGAT

BIANG KERINGAT 



Pengertian

Biang keringat, atau miliaria, adalah kelainan kulit yang sering muncul, khususnya di negara tropis. Gangguan kulit ini sering terjadi pada anak-anak. Biang keringat terjadi karena  tersumbatnya kelenjar keringat.
Sumbatan kelenjar keringat ini akan menyebabkan keluhan berupa bintik merah dan keluhan gatal pada kulit. Miliaria dapat terjadi di bagian tubuh mana saja, namun miliaria biasanya terjadi pada daerah wajah, leher dan punggung.

Penyebab

Biang keringat terjadi karena beberapa hal, seperti:
  • Kelembapan udara yang tinggi dan panas yang merangsang produksi keringat
  • Pakaian yang terlalu ketat, sehingga suhu tubuh anak meningkat dan berkeringat
  • Anak mengalami demam dan banyak mengeluarkan keringat
  • Kebersihan kulit yang kurang
Berbagai faktor diatas dapat dimodifikasi untuk megurangi keluhan biang keringat. Selain itu, bakteri Staphylococcus epidermidis juga dipercaya berperan dalam terjadinya biang keringat

Diagnosis

Diagnosis biang keringat ditentukan berdasarkan wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Pada wawancara medis akan didapatkan informasi berupa adanya keluhan kulit gatal, riwayat berkeringat, penggunaan baju tebal dan kebersihan diri yang kurang.
Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai adanya kemerahan, dan papul (bintil) kulit. Pada biang keringat ringan, tampak bintil putih, berair, dan mengilap tanpa disertai rasa gatal. Sedangkan, pada biang keringat berat, terlihat bintil merah, gatal, berair, dan terasa perih.
Ada tiga macam biang keringat, yaitu:
  • Miliaria Kristalina
    Sumbatan terjadi pada permukaan kulit sehingga terlihat gelembung-gelembung kecil berukuran 1–2 mm berisi cairan jernih. Biang keringat ini terjadi pada lapisan atas (miliaria cyrstalina). Gejala yang tampak adalah bintil kecil berair dan tampak mengilap. 
  • Miliaria Rubra
    Biang keringat jenis ini terjadi di lapisan tengah. Gejalanya adalah kulit berwarna kemerahan, gatal, berair, perih, dan menyerupai parut. Biang keringat ini ditandai bintil kecil (1–2 mm), berwarna merah biasanya disertai keluhan gatal dan perih.
  • Miliaria Profunda
    Biang keringat jenis ini terdapat di lapisan kulit yang lebih dalam. Miliaria profunda biasanya timbul pada keadaan miliaria rubra yang terjadi berulang. 
    Pada biang keringat jenis ini terdapat bintik-bintik putih keras dan berukuran 1–3 mm, kulit tidak berwarna merah, namun kasus ini jarang terjadi. Karena letak sumbatan keringat yang lebih dalam maka secara klinis lebih banyak berupa bintil-bintil daripada gelembung berisi cairan.

Gejala

Gejala yang dikeluhkan oleh penderita miliaria adalah kulit terasa gatal, pedih dan kulit jadi kemerahan. Pada biang keringat yang lebih berat dapat dijumpai gelembung-gelembung kecil atau lenting yang berisi air.
Garukan berulang dapat menyebabkan bekas luka garukan. Lesi kulit biasanya terlihat pada daerah yang tertutup pakaian seperti dada, punggung dan daerah yang tertekan atau tergesek pakaian.

Pengobatan

Tidak ada pengobatan khusus untuk biang keringat. Biang keringat biasanya cukup ditangani dengan perawatan kulit yang tepat. Hindarilah udara yang panas dan kenakan pakaian yang longgar dan menyerap keringat. Gunakan lotion calamin untuk meredakan kulit yang terkena. 
Bila keadaan kulit disertai infeksi sekunder yang terlihat dari adanya pus atau nanah pada kulit, maka pemberian antibiotik dapat dipertimbangkan. Pada lesi kulit yang kemerahan dan gatal, dapat diberikan krim hidrokortison potensi rendah. Bila gatal sangat mengganggu, antihistamin dapat dipertimbangkan. Penggunaan salep dan obat harus dipantau penggunaannya oleh dokter.

Pencegahan 

Terdapat beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk menguragi kejadian biang keringat. Beberapa langkah pencegahan biang keringat seperti:
  • Hindari paparan panas. Bila harus bepergian di luar rumah, gunakan payung atau topi untuk mencegah paparan panas yang berlebihan.
  • Gunakan pakaian yang berbahan katun dan longgar yang menyerap keringat. Jika pakaian sudah basah karena keringat, gantilah dengan pakaian yang baru.
  • Jika kulit berkeringat, mandilah dengan air dingin. Jika memungkinkan, bekerja dan beraktivitas pada ruangan dengan udara yang sejuk atau dengan pendingin ruangan.
  • Gunakan losion calamine untuk menyejukkan dan mengurangi iritasi pada kulit.

ads.com

hub traffick

Free porn videos

mgid odah

Loading...